ARTICLES
Ada beberapa orang tua yang berpendapat demikian. Boleh saja orang berpendapat tetapi yang perlu dip
Ada beberapa orang tua yang berpendapat demikian. Boleh saja orang berpendapat tetapi yang perlu dipertimbangkan bahwa setiap segala sesuatu yang ada didunia selalu diciptakan terbatas, tak ada yang kekal. Oleh karena itu setiap individu juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Perlakuan yang diberikan pada anak dengan mengikut sertakan pada banyak kegiatan bisa saja dilakukan asalkan anak dapat dengan senang menjalankannya dan bukan sebagai beban bagi anak. Beberapa kasus yang dijumpai adalah setelah dilakukan fingerprint test mereka menyalahkan orang tuanya yang mengharuskan ia bisa dan trampil bermain organ seperti adiknya. Nada protes yang disampaikan ini sebagai tanda bahwa anak kurang memiliki kecerdasan yang baik ketrampilan tangannya. Sebagian kecil, pada akhirnya juga diikut sertakan tes karena orang tuanya memandang anaknya kurang memiliki bakat meskipun sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh ketrampilan. Sesungguhnya bukan anak tidak memiliki bakat tetapi banyaknya penugasan tersebut membuat anak stress sehingga kurang bisa menampilkan bakatnya.
Tentunya untuk dapat menguasai suatu ketrampilan dengan baik, maka diperlukan fokus dan konsistensi untuk menjalankannya. Membekali anak dengan banyak ketrampilan yang kurang sesuai dengan potensinya adalah tindakan yang kurang tepat karena anak tidak begitu mahir untuk banyak hal yang dikuasainya. Bila hasilnya sesuatu yang biasa maka tindakan demikian adalah suatu pemborosan dimana pada akhirnya yang didapatkan adalah hal biasa yang banyak orang juga bisa lakukan. Disamping itu bagi anak yang kurang potensi dibidang yang ditekuninya maka sulit untuk mendapatkan kebanggaan terhadap dirinya yang pada akhirnya berpengaruh pada pembentukan self esteem sehingga tumbuh menjadi anak yang pemalu.
Cobalah kita perhatikan. Anak yang berbakat musik dan kurang berbakat bidang musik, diberikan pengajaran yang sama. Tentu hasil yang didapatkan berbeda. Anak yang berbakat akan lebih cepat menguasai. Kecepatan penguasaan ini sangat berpengaruh pada harga diri anak tersebut. Baginya ada sesuatu yang dapat dibanggakan. Kecepatan anak untuk dapat menguasai dan bisa tampil akan meningkatkan rasa percaya dirinya bahwa ia mampu melakukan dengan yang terbaik dan menjadi yang terbaik. Disamping itu, anak yang berbakat musik, tentunya bisa mengembangkan apa yang dipelajarinya. Ia tidak hanya terbatas pada apa yang diberikan oleh gurunya tetapi ia bisa menciptakan kreasi sendiri dan ini pasti lebih membanggakan dirinya. Sedangkan anak yang kurang berbakat, membutuhkan waktu lama dan mendapatkan respon yang kurang baik dari lingkungan belajarnya. Stimulasi yang kurang tepat menciptakan kesan “aku tidak pandai, aku tidak bisa, aku tidak seperti dia”, kondisi ini melemahkan semangatnya dan ia menjadi orang yang mudah patah semangat, daya juangnya kurang. Bukankah banyak kasus yang terjadi pada Sumber Daya Manusia untuk permasalahan daya juang ini. Dimana banyak pekerja yang mudah mengeluh dan kurang kreatif ketika menghadapi persoalan.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi persaingan yang terjadi saat ini, tentunya berbeda dengan kondisi jaman dimana putra-putri kita mengambil peran di dalam kehidupannya kelak. Persaingan ke depan akan semakin bertambah ketat. Untuk guru SD saat ini masih bisa dari tingkatan sarjana bukan keguruan dengan tambahan program keahlian mengajar. Mungkin pada saat jaman anak kita berperan, untuk menjadi guru SD sudah disyaratkan minimal S2, atau ada tambahan ketrampilan khusus lainnya. Tentunya bagi anak yang telah disiapkan sejak dini akan mampu berkompetisi dengan jauh lebih baik.
Salam Mantap
Drs. Psi., Reksa Boeana
Fingerprint Analyst Rumah Belajar Evissy
kembali ke atas
Artikel-artikel lainnya :
- Pentingnya Memahami Multiple Intelligence dan Karakter Anak
- Hasil Psikotes Anak Saya Berubah-ubah
- Apa Bedanya Hasil Psikotes Dengan Fingerprint Test?
- Jangan Terkecoh Dengan Jumlah Lembar Dalam Laporan Fingerprint Test
| 1 | | 2 | | 3 | | 4 | | 5 |
Home | Products | Articles | Services | Events | Profile | Testimonial | Contact
Copyright © 2009 www.evissyrumahbelajar.com. All Rights Reserved. by Schnichiz
ingat 5 perkara sebelum datang 5 perkara. Alamatku: kaligandu Rt01/Rw02 Klepu Pringsurat Temangung. Nomer HPku 085641153419
Halaman
Jual beli
formula bisnis
www.berniaga.comJual & beli apa aja mudah & GratisAnda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
Mampir langsung di berniaga.com!
4/05/2010
1/10/2010
SQ Centre Indonesia
IMAN PENGHARAPAN KASIH
SQ Centre Indonesia PUBLIC CLASS 2009 - Workshops & Seminars (coming 11 February) — Jakarta
* Lokasi: Jakarta, Jakarta, Indonesia
* Tanggal Terpasang: Februari 17
Bp. Ferry Aries adalah salah seorang fasilitator utama di SQ Centre. Seorang Professional Radio Host dan juga seorang dosen pengajar selama beberapa tahun di Universitas yang cukup terkenal di Jakarta, beliau telah menjalankan kelas-kelas training intensif, bagi peserta-peserta lapangan (Frontliners and Supervisors), berdasarkan standard Internasional dari SQ Centre
Profile SQ Centre:
SQ Centre Indonesia appoints its own Service Excellence Mindset Specialists for this workshop. SQ Centre facilitators use World-Class SQC modules and specially formulated tools usually applied in SQ Centre International trainings. These tools ignite deep-learning yet highly result-oriented.
Menggunakan BAHASA INDONESIA
Rp. 2,000,000
10% discount akan berlaku langsung bagi pendaftaran Early Bird (sebelum tanggal 31 Januari) atau Group Booking (minimal 5 orang)
Penawaran harga khusus juga akan diberikan bagi pendaftaran minimal 2 kelas
Untuk informasi lebih lanjut silahkan kontak Nathalie di (62 21) 5638009, atau email ke: public_class@sqcentre.co.id
SQ Centre Indonesia PUBLIC CLASS 2009 - Workshops & Seminars (coming 11 February) — Jakarta
* Lokasi: Jakarta, Jakarta, Indonesia
* Tanggal Terpasang: Februari 17
Bp. Ferry Aries adalah salah seorang fasilitator utama di SQ Centre. Seorang Professional Radio Host dan juga seorang dosen pengajar selama beberapa tahun di Universitas yang cukup terkenal di Jakarta, beliau telah menjalankan kelas-kelas training intensif, bagi peserta-peserta lapangan (Frontliners and Supervisors), berdasarkan standard Internasional dari SQ Centre
Profile SQ Centre:
SQ Centre Indonesia appoints its own Service Excellence Mindset Specialists for this workshop. SQ Centre facilitators use World-Class SQC modules and specially formulated tools usually applied in SQ Centre International trainings. These tools ignite deep-learning yet highly result-oriented.
Menggunakan BAHASA INDONESIA
Rp. 2,000,000
10% discount akan berlaku langsung bagi pendaftaran Early Bird (sebelum tanggal 31 Januari) atau Group Booking (minimal 5 orang)
Penawaran harga khusus juga akan diberikan bagi pendaftaran minimal 2 kelas
Untuk informasi lebih lanjut silahkan kontak Nathalie di (62 21) 5638009, atau email ke: public_class@sqcentre.co.id
EQ vs IQ
EQ vs IQ: Mengapa Orang Cerdas Gagal?
Ringkasan ini diterjemahkan dari EQ vs. IQ: Why Do Smart People Fail?
Mengapa orang yang lebih sosial berhasil sedangkan yang IQ-nya sedang
banyak yang gagal? Pertama-tama kita perlu pahami dulu bahwa kecerdasan
emosi (EQ) bukanlah lawan dari kosien kecerdasan (IQ). EQ justeru
melengkapi IQ seperti halnya kecerdasan akademik dan ketrampilan
kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya kondisi emosi
mempengaruhi fungsi otak dan kecepatan kerjanya (Cryer dalam Kemper).
Penelitian bahkan juga menunjukkan bahwa kemampuan intelektual Albert
Einstein yang luar biasa itu mungkin berhubungan dengan bagian otak
yang mendukung fungsi psikologis, yang disebut amygdala. Meskipun
demikian, EQ dan IQ berbeda dalam hal mempelajari dan mengembangkannya.
IQ merupakan potensi genetik yang terbentuk saat lahir dan menjadi
mantap pada usia tertentu saat pra-pubertas, dan sesudah itu tidak
dapat lagi dikembangkan atau ditingkatkan. Sebaliknya, EQ bisa
dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan pada segala umur. Penelitian
justeru menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk mempelajari EQ meningkat
dengan bertambahnya usia. Perbedaan lain, IQ merupakan kemampuan ambang
yang hanya bisa menunjukkan jalan bagi karir kita atau membuat kita
bekerja di bidang tertentu; sedangkan EQ berjalan di jalan itu dan
mempromosikan kita di bidang itu. Oleh karena itu, keseimbangan antara
IQ dan EQ merupakan unsur penting dalam keberhasilan manajerial. Sampai
tingkat tertentu, IQ mendorong kinerja produktif; tapi kompetensi
berbasis-IQ dianggap "kemampuan ambang", artinya kemampuan yang
diperlukan untuk pekerjaan rata-rata. Sebaliknya, kompetensi dan
ketrampilan berbasis-EQ jauh lebih efektif, terutama pada tingkat
organisasi yang lebih tinggi ketika perbedaan IQ dapat diabaikan. Dalam
studi perbandingan antara orang yang kinerjanya cemerlang dan yang
biasa-biasa saja pada organisasi tingkat tinggi, perbedaannya 85%
disebabkan oleh kompetensi berbasis-EQ, bukan IQ. Dr Goleman mengatakan
bahwa walaupun organisasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, ternyata EQ
menyumbangkan 80-90% untuk memprediksikan keberhasilan dalam organisasi
secara umum. Kami merujuk kepada studi kasus yang dilakukan oleh Dr.
Goleman dan dua peneliti EQ terkenal lain untuk menganalisis bagaimana
kompetensi EQ berkontribusi bagi laba yang didapatkan sebuah firma
akuntansi yang besar. Pertama, IQ dan EQ para partisipan diuji dan
dianalisis secara mendalam; kemudian mereka diorganisasi ke dalam
beberapa kelompok kerja, dan masing-masing kelompok diberi pelatihan
mengenai satu bentuk kompetensi EQ, seperti manajemen-diri dan
ketrampilan sosial; sebagai kontrol adalah satu kelompok yang terdiri
atas orang-orang ber-IQ tinggi. Ketika dilakukan evaluasi nilai-tambah
ekonomi yang diberikan kompetensi EQ dan IQ, hasilnya sangat
mencengangkan. Kelompok dengan ketrampilan sosial tinggi menghasilkan
skor peningkatan laba 110% , sementara yang dibekali manajemen-diri
mencatat peningkatan laba 390%, peningkatan $ 1.465.000 per tahun.
Sebaliknya, kelompok dengan kemampuan kognitif dan analitik tinggi,
yang mencerminkan IQ, hanya menambah laba 50%; artinya, IQ memang
meningkatkan kinerja, tapi secara terbatas karena hanya merupakan
kemampuan ambang. Kompetensi berbasis EQ jelas jauh lebih mendorong
kinerja. Penulis Mohamed El-Kamony adalah mahasiswa yunior American
University di Cairo yang mengambil bidang utama Administrasi Bisnis
dengan konsentrasi ganda dalam pemasaran dan keuangan.
Diterbitkan di: September 24, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5
Nilai : 1 2 3 4 5
Terima kasih atas penilaian anda
You searched for: ""iq "". For the best results, click here!
* Kutipan
* Shvoong
* Pengiklan
* Link ke kami
* Persetujuan pemakai
* Hubungi Kami
* Peta situs
* Afiliasi
* Apakah Shvoong itu?
* Blog
* Pembuat ringkasan
* Laporan
Ringkasan ini diterjemahkan dari EQ vs. IQ: Why Do Smart People Fail?
Mengapa orang yang lebih sosial berhasil sedangkan yang IQ-nya sedang
banyak yang gagal? Pertama-tama kita perlu pahami dulu bahwa kecerdasan
emosi (EQ) bukanlah lawan dari kosien kecerdasan (IQ). EQ justeru
melengkapi IQ seperti halnya kecerdasan akademik dan ketrampilan
kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya kondisi emosi
mempengaruhi fungsi otak dan kecepatan kerjanya (Cryer dalam Kemper).
Penelitian bahkan juga menunjukkan bahwa kemampuan intelektual Albert
Einstein yang luar biasa itu mungkin berhubungan dengan bagian otak
yang mendukung fungsi psikologis, yang disebut amygdala. Meskipun
demikian, EQ dan IQ berbeda dalam hal mempelajari dan mengembangkannya.
IQ merupakan potensi genetik yang terbentuk saat lahir dan menjadi
mantap pada usia tertentu saat pra-pubertas, dan sesudah itu tidak
dapat lagi dikembangkan atau ditingkatkan. Sebaliknya, EQ bisa
dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan pada segala umur. Penelitian
justeru menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk mempelajari EQ meningkat
dengan bertambahnya usia. Perbedaan lain, IQ merupakan kemampuan ambang
yang hanya bisa menunjukkan jalan bagi karir kita atau membuat kita
bekerja di bidang tertentu; sedangkan EQ berjalan di jalan itu dan
mempromosikan kita di bidang itu. Oleh karena itu, keseimbangan antara
IQ dan EQ merupakan unsur penting dalam keberhasilan manajerial. Sampai
tingkat tertentu, IQ mendorong kinerja produktif; tapi kompetensi
berbasis-IQ dianggap "kemampuan ambang", artinya kemampuan yang
diperlukan untuk pekerjaan rata-rata. Sebaliknya, kompetensi dan
ketrampilan berbasis-EQ jauh lebih efektif, terutama pada tingkat
organisasi yang lebih tinggi ketika perbedaan IQ dapat diabaikan. Dalam
studi perbandingan antara orang yang kinerjanya cemerlang dan yang
biasa-biasa saja pada organisasi tingkat tinggi, perbedaannya 85%
disebabkan oleh kompetensi berbasis-EQ, bukan IQ. Dr Goleman mengatakan
bahwa walaupun organisasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, ternyata EQ
menyumbangkan 80-90% untuk memprediksikan keberhasilan dalam organisasi
secara umum. Kami merujuk kepada studi kasus yang dilakukan oleh Dr.
Goleman dan dua peneliti EQ terkenal lain untuk menganalisis bagaimana
kompetensi EQ berkontribusi bagi laba yang didapatkan sebuah firma
akuntansi yang besar. Pertama, IQ dan EQ para partisipan diuji dan
dianalisis secara mendalam; kemudian mereka diorganisasi ke dalam
beberapa kelompok kerja, dan masing-masing kelompok diberi pelatihan
mengenai satu bentuk kompetensi EQ, seperti manajemen-diri dan
ketrampilan sosial; sebagai kontrol adalah satu kelompok yang terdiri
atas orang-orang ber-IQ tinggi. Ketika dilakukan evaluasi nilai-tambah
ekonomi yang diberikan kompetensi EQ dan IQ, hasilnya sangat
mencengangkan. Kelompok dengan ketrampilan sosial tinggi menghasilkan
skor peningkatan laba 110% , sementara yang dibekali manajemen-diri
mencatat peningkatan laba 390%, peningkatan $ 1.465.000 per tahun.
Sebaliknya, kelompok dengan kemampuan kognitif dan analitik tinggi,
yang mencerminkan IQ, hanya menambah laba 50%; artinya, IQ memang
meningkatkan kinerja, tapi secara terbatas karena hanya merupakan
kemampuan ambang. Kompetensi berbasis EQ jelas jauh lebih mendorong
kinerja. Penulis Mohamed El-Kamony adalah mahasiswa yunior American
University di Cairo yang mengambil bidang utama Administrasi Bisnis
dengan konsentrasi ganda dalam pemasaran dan keuangan.
Diterbitkan di: September 24, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5
Nilai : 1 2 3 4 5
Terima kasih atas penilaian anda
You searched for: ""iq "". For the best results, click here!
* Kutipan
* Shvoong
* Pengiklan
* Link ke kami
* Persetujuan pemakai
* Hubungi Kami
* Peta situs
* Afiliasi
* Apakah Shvoong itu?
* Blog
* Pembuat ringkasan
* Laporan
Langganan:
Komentar (Atom)